oleh

Asal Mula, Cara dan Makna Begasing, Permainan Tradisional Asal Kalimantan Timur

TEKAPEKALTIM — Tahukah Anda tradisi klasik yang sampai saat ini hampir dilupakan oleh masyarakat Kalimantan Timur? Itulah Begasing. Berikut ini penjelasannya.

Begasing merupakan jenis permainan tradisional Kalimantan Timur, baik masyarakat pedalaman maupun masyarakat pesisir pantai.

Permainan tradisional yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mulawarman ini ternyata diadopsi dari para pedagang asal Melayu.

Permainan ini memang sangat lazim di bumi nusantara. Permainan yang bisa berputar pada satu titik persis pergerakan angin puting beliung.

Dilansir dari Wikipedia, gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Bukan saja merupakan permainan yang dimainkan oleh anak-anak dan orang dewasa, gasing juga kerap digunakan untuk berjudi dan meramal nasib.

Dalam permainan ini, nampak sangat mencerminkan lapisan atau stratifikasi dalam masyarakat. Hal ini dapat dilihat dalam pengunaan kata haluan (pesuruh), Mentri dan Raja (Meruhum dalam bahasa Kutai).

Melansir warisanbudaya.kemendikbud, permainan ini sangat memerlukan kecepatan dan kecermatan serta konsentrasi dari pemain. Permainan ini dilakukan tidak mengenal musim.

Peralatan yang Disiapkan

  1. Gasing

Bahan dari kayu keras (ulin atau Benggeris) dengan bentuk: bahagian atas disebut kepala bentuk bulat dengan diameter 1,5 cm, tinggi 2 cm pada bagian puncak dibuatagak miring. Pada bagian tengah berbentuk bulat di mana semakin ke bawah semakin runcing.

Titik pertemuan ini harus pada pertengahan sehingga gasing ini seimbang. Tinggi gaing 10-15 cm. Yang paling penting diperhatikan dalam pembuatan gasing ini adalah keseimbangan antara kepala, badan dan lain-lain.

  1. Tali

Bahan dari kulit kayu Jomok yang diolah dengan cara memukul kulit kayu untuk membuang kulit luar dan kemudian dijemur. Setelah kering, kulit kayu dipilih sebesar jari tangan dan biasanya semakin keujung semakin kecil. Panjang tali ini tergantung besarnya gasing yang akan dipakai. Biasanya1-1,5 meter.

Prosesi Jalannya Permainan

Permainan ini biasanya dilakukan di atas tanah dengan ukuran minimal 4x4m, di mana bisa dilakukan 2,3 atau 4 orang. Masing-masing peserta harus menyediakan peralatan yang dibutuhkan dalam permainan.

Permainan ini merupakan permainan anak-anak umur 10 sampai orang dewasa umur 40 tahun.

Untuk memulai permainan masing-masing pemain akan memutar gasingnya sekuat tenaga dengan cara melilitkan tali pada gasing dimulai dari kepala gasing sampai sekitar perut sehingga tali itu tersisa untuk pegangan.

Setelah tali dipasang maka masing-masing pemain akan melepaskan gasingnya dengan cara menarik tali sehingga terlepas dari tanah dan berputar.

Palaksanaan pemutaran gasing secara serentak ini disebut “beturai” Gasing yang terlebih dahulu berhenti dinyatakan sebagai pihak yang kalah dan dia dinyatakan sebagai haluan.

Gasing yang paling terahir berhenti disebut raja, sedang nomor dua disebut Mentri. Jika gasing berhenti bersamaan maka hal ini harus diulangi.

Jika sudah ditentukan masing-masing pemain maka permainan dimulai, di mana pemain haluan terlebih dahuli memutar gasingnya.

Sewaktu gasingnya dalam keadaan berputar pemain kedua (mentri) akan memukul gasingnya dengan cara yang sama.

Jika gasing haluan tadi kena dan terpelanting sedangkan gasing mentri tetap berputar, maka permainan akan dilanjutkan pemain berikutnya (raja) di mana dia akan memukulkan gasingnya kepada gasing mentri.

Kalau gasing raja tadi mengenai gasing mentri sehingga gasing mentri terpelanting dan gasing raja tetap berputar, maka permainan akan dilanjutkan seperti di atas.

Kalau seandainya salah satu pemain sewaktu memukulkan gasingnya tidak mengenai sasaran, yang dalam bahasa Kutai disebut Tebut, atau sewaktu memukulkan gasing haluan tetap berputar dan berhenti kemudian maka pemain tadi turun posisinya menjadi haluan.

Sedangkan gasing yang sebagai haluan naik jabatannya menjadi mentri. Di waktu gasing haluan tadi masih dalam keadaan berputar pemain berikutnya (raja) boleh melakukan pikulan dan kalau mengeni sasaran maka posisi untuk pemain selanjutnya dia tetap menjadi raja. Tetapi kalau tidak mengenai sasaran maka dia akan turun posisinya menjadi mentri.

Demikian permainan ini berlangsung di mana masing-masing pemain akan silih berganti posisi atau jabatan sehingga pemain yang paling sering akan paling lama menjadi haluan akan dinyatakan sebagai pihak yang kalah. (*)

Komentar