oleh

Ecotourism Merabu Village di Berau Kaltim, Rumah Primata Khas Kalimantan

TEKAPEKALTIM — Satu lagi kampung Wisata di Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) yang wajib dikunjungi wisatawan. Kampung wisata itu adalah Merabu.

Desa di Kabupaten Berau disebut kampung dan kampung juga mendapatkan alokasi dana desa setiap tahunnya.

Kampung Merabu merupakan kampung kecil yang terletak di kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat. Sebuah bentang alam karst yang terletak di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur di Kalimantan Timur.

Saat ini dalam pengajuan untuk menjadi Geopark, Unesco, dan pada tahun 2015, pernah pula dinominasikan untuk dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. 

Kampung Merabu tepatnya berada di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, dengan luas 22.000 hektar dan dihuni sekitar 72 kepala keluarga atau sekitar 300 jiwa lebih.

Kawasan ini masih merupakan hutan tropis dataran rendah yang relatif baik, dengan hutan lindung seluas 60 persen (12,200 hektar) dan hutan produksi seluas 40 persen (10.800 hektar).

Kampung Merabu merupakan rumah bagi suku Dayak Lebo, yang memiliki kekerabatan dengan Dayak Lebo Merapun, Panaan dan mapulu Tintang.

Namun keunikan desa kecil ini juga terdapat beberapa suku pendatang seperti suku Jawa, Bugis, Kutai Barat, Banjar yang hidup harmonis dalam keragaman suku dan agama.

Mata pencaharian utama masyarakat adalah petani dengan menanam padi darat dan memanfaatkan hasil hutan non kayu, seperti madu, buah buahan, gaharu, dan sarang burung walet.

Kampung ini dapat ditempuh dengan dua jalur jalan darat dari Tanjung Redep. Jika melalui kampung Lesan, menyebrangi sungai lesan dengan bantuan kapal yang dioperasikan masyarakat Lesan dapat ditempuh selama 4 jam.

Sementara jalur lainnya ditempuh selama 6 jam dengan kondisi jalan beraspal dengan beberapa bagian belum beraspal.

Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat sendiri merupakan tandon air raksasa yang kaya akan sumber mata air bersih, yang diselimuti oleh hutan hujan tropis yang masih lebat.

Bagi masyarakat Merabu hutan memiliki nilai yang tinggi  karena hutan adalah harapan dan sumber penghidupan bagi kelangsungan hidup mereka.

Hutan merupakan gudang bahan makanan alami dan apotik alami yang disediakan oleh alam.

Selain memiliki nilai berarti bagi manusia, kawasan hutan dan karst di Merabu juga berperan sebagai rumah bagi beragam tumbuhan dan satwa di dalam hutan, termasuk beberapa jenis primata, seperti orang utan, owa-owa, monyet ekor panjang.

Berbagai jenis burung seperti enggang, elang, murai batu, gagak, raja udang dengan mudah dijumpai disekitar sungai dan hutan.

Jejak orang utan yang menandakan bahwa mereka ada disekitar hutan seperti sarang dan bekas makanan dapat ditemukan jika wisatawan menjelajah hutan di sekitar desa.

Di tengah gempuran perusahaan sawit dan tambang yang ada di sekitar Kampung Merabu, masyarakat Kampung masih tetap mempertahankan kealamian dan menjaga kelestarian hutannya.

Saat ini melalui skema hutan desa, masyarakat kampung Merabu telah mendapatkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, untuk mengelola sekitar 8.425 hektar hutan.

Sejak tahun 2014, melalui Badan Pengelola Hutan Desa Perima Puri bekerjasama dengan mitra LSM dan pemerintah Kabupaten Berau, kampung Merabu memulai pengembangan ekowisata.

Masyarakat sepakat bahwa pariwisata minat khusus yang dikembangkan di Merabu, dengan mengandalkan daya tarik alam dan budaya yang mereka miliki.

Masyarakat menginginkan agar sumber daya alam yang ada tetap terlindungi, namun masyarakat juga mendapatkan nilai tambah ekonomi dari ekowisata melalui perannya sebagai penyedia jasa layanan wisata seperti home stay, transportasi perahu, pemandu lokal, penyedia makanan dan minuman serta pengrajin souvernir. 

Kegigihan masyarakat Merabu mempertahankan hutannya menyentuh hati para pihak seperti pemerintah daerah, LSM dan pihak-pihak lain untuk turut serta membantu masyarakat Kampung mendapatkan akses fasilitas dasar seperti pembukaan jalan darat untuk akses keluar kampung, pembangunan PLTS untuk akses listrik bagi masyarakat, pembangunan saluran air bersih ke rumah-rumah dan pembangunan fasiltas lainnya yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat Merabu. (tqm/adv/dispar)

Komentar