oleh

Dukung Green Economy, Kadisbun Kaltim: Semua Pihak Tetap Solid dan Berkolaborasi

TEKAPEKALTIM — Meskipun memiliki luas hutan tropis yang besar, Indonesia juga masih menghasilkan karbon yang tidak kalah tingginya.

Menurut World Resource Institute (WRI), Indonesia sebagai penghasil emisi karbon menempati peringkat ke-8 pada tahun 2018.

Mengenai hal itu Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menyelenggarakan Seminar Nasional Potensi Monetisasi Penurunan Emisi Karbon Kaltim, di Aula Maratua, Selasa (5/12).

Agenda ini merupakan bentuk komitmen BI sebagai upaya mendukung pengembangan ekonomi hijau di Indonesia, melalui berbagai instrumen kebijakan makroprudensial yang dianggap mampu mendorong pertumbuhan proyek dan usaha ramah lingkungan dengan tetap memperhatikan stabilitas sistem keuangan.

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Ahmad Muzakkir, Mewakili Penjabat (Pj) Gubernur Kaltim Akmal Malik, menegaskan bahwa keberhasilan Kaltim dalam program Fasilitas Kemitraan Karbon Hutan (FCPF) tidak terlepas dari penerapan konsistensi prinsip-prinsip green economy.

Menurutnya, Indonesia, bahkan ASEAN telah berhasil melaksanakan program dan menjadi contoh bagaimana mengurangi emisi dan deforestasi hutan yang ada.

“Bagaimana mengurangi gas emisi rumah kaca dengan mengelola lingkungan dengan baik,” tutur Ahmad Muzakkir.

Dia juga mengemukakan, skema FCPF ini perlu melibatkan peran penting dari semua pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun non-pemerintah, mitra pembangunan, perusahaan, universitas, dan masyarakat.

“Kolaborasi ini terus dijaga dan disolidkan untuk menjalankan tugas dan fungsi sesuai komitmen dalam menjaga Kaltim, terutama sebagai IKN,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltim, Budi Widihartanto menyampaikan, dilaksanakannya seminar adalah untuk menindaklanjuti kajian potensi monetisasi penurunan emisi karbon yang dilakukan oleh Bank Indonesia bersama lembaga riset ICRES.

“Diharapkan nantinya dapat menyokong eksistensi peluang ekonomi dan keuangan hijau di Kaltim, serta menjadi upaya advisory dari Bank Indonesia untuk kelanjutan program FCPF-CF,” ujar Budi Widihartanto.

Kegiatan tersebut turut menghadirkan narasumber dari Direktur Lingkungan Hidup BAPENAS, Chairman of the Indonesia Center for Renewable Energy Studies, ESG Consultant dan ISEI Kaltim. (cca/adv/disbun)

Komentar