Bontang Produksi 250 MW, Warga Masih Terima Pemadaman Bergilir, Winardi Desak PLN Buka-bukaan
BONTANG – Kota Bontang memiliki pembangkit dengan total produksi listrik sekitar 250 megawatt (MW). Meski begitu, masyarakat masih harus menerima pemadaman listrik secara bergilir.
Anggota DPRD Bontang, Winardi, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) mencecar Managemen PLN terkait ketersediaan pasokan listrik dan solusi pemadaman bergilir, Selasa 15 September 2026.
Winardi meminta PLN UP3 Bontang terbuka menjelaskan kondisi kelistrikan di Kota Bontang.
Ia ingin mengetahui secara rinci berapa kebutuhan listrik Bontang, berapa daya yang tersedia, serta berapa besar daya yang harus dikurangi hingga menyebabkan pemadaman bergilir.
“Berapa megawatt Bontang ini kebutuhannya? Sepemahaman saya itu surplus. Kalau dimatikan secara bergilir, berapa megawatt yang dikurangi? Saya minta data itu transparan saja,” tegas Winardi.
Menurutnya, keterbukaan PLN penting agar mencegah munculnya berbagai asumsi liar di masyarakat. Apalagi, menurutnya, pemadaman seperti saat ini bukan kondisi yang biasa dirasakan warga dalam beberapa tahun terakhir.
“Empat tahun terakhir enggak pernah begini,” ujarnya.
Winardi juga mempertanyakan persoalan tersebut apakah benar-benar berkaitan dengan kekurangan daya atau justru akibat sistem interkoneksi kelistrikan regional.
Kata dia, Bontang memiliki pembangkit listrik sendiri. Di sisi lain, sejumlah industri besar juga memiliki pembangkit untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya.
“Berarti yang kita urusin hanya tengah kota,” katanya.
Diketahui, Bontang memiliki PLTU PT Graha Power Kaltim di Teluk Kadere dan pembangkit listrik tenaga diesel-gas di kawasan Kanaan, Bontang Barat. Total produksi kedua pembangkit tersebut disebut mencapai sekitar 250 MW.
Karena itu, Winardi meminta PLN membeberkan data secara terang, termasuk posisi daya Bontang dalam sistem interkoneksi regional.
Ia menegaskan, PLN sebagai perusahaan negara tidak boleh hanya melihat persoalan dari sisi bisnis, sementara masyarakat harus menanggung dampak pemadaman.
“Kami enggak mau tahu PLN untung berapa, B2B-nya sama siapa. Yang penting pelayanan itu jalan. Harus tetap jalan,” tegasnya.
Sementara itu, menurut pengakuan Manager PLN UP3 Bontang, Ludi Witardono rata-rata penggunaan listik di Kota Bontang sebesar 70 Megawatt.
Ia menerangkan, alasan Bontang turut mengalami pemadaman, sebab saat ini PLN menggunakan sistem interkoneksi. Di mana produksi listrik dari pembangkit yang ada di Kota Bontang bersama pembangkit listrik di daerah lain, dikirim ke unit pengatur distribusi (UID) di Balikpapan, baru kemudian didistribusi ke 10 Kabupaten Kota yang ada di Kalimantan Timur.
Ia menyebur alasan umum pemadaman listrik di Kalimantan Timur, akiba kemampuan kondisi listrik yang belum optimal, sebab adanya gangguan dan pemeliharaan secara bersamaan di 4 pembangkit listrik.
“Yang pertama PLTU CFK atau Cahaya Fajar Kaltim itu ada di Kutai Kerta Negara. Lalu PLTU Kaltim Prima Coal itu di Kutim, PLTU Teluk Balikpapan dan PLT-MG Bangkanai Barito Utara, Kalteng,” jelasnya. (Adv)

Tinggalkan Balasan