Gerakan Gesit Digaungkan, Neni Ingatkan Ancaman Penuh TPA Bontang dalam Tiga Tahun
BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menekankan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam mengelola sampah guna mengurangi ketergantungan terhadap petugas kebersihan.
Ia menilai, selama ini pengelolaan sampah masih cenderung dibebankan sepenuhnya kepada petugas kebersihan, seperti pasukan kuning dan pasukan hijau, tanpa diimbangi kesadaran dari warga.
Sebagai langkah mendorong perubahan pola pikir tersebut, Pemerintah Kota Bontang meluncurkan Gerakan Sampahku Tanggung Jawabku (Gesit). Program ini bertujuan membangun kesadaran kolektif masyarakat agar lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.
“Gerakan Sampah Tanggung Jawabku ini untuk menyadarkan masyarakat bahwa kita tidak boleh selalu bergantung pada pasukan kuning atau petugas kebersihan. Minimal kita bertanggung jawab terhadap sampah kita sendiri,” kata Neni kata Neni, Kamis, 26 Maret 2026.
Menurutnya, masih banyak kebiasaan masyarakat yang perlu diubah, terutama saat menggelar kegiatan atau acara. Ia menyebut, sampah kerap dibiarkan begitu saja setelah kegiatan selesai.
Padahal, kata dia, setiap individu seharusnya memiliki kesadaran untuk membawa dan membuang sampahnya sendiri ke tempat yang telah disediakan.
“Kalau setiap ada acara kita membawa pulang sampah atau memasukkannya ke tempat sampah, maka pekerjaan petugas kebersihan akan jauh lebih ringan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Neni mengungkapkan bahwa persoalan sampah kini menjadi tantangan serius bagi daerah, terutama terkait kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang semakin terbatas.
Ia menjelaskan, kondisi saat ini masih jauh dari ideal karena sebagian besar sampah langsung dibuang ke TPA tanpa melalui proses pemilahan.
“Seharusnya sampah yang masuk ke TPA hanya sekitar lima persen saja, tetapi saat ini masih sekitar 70 persen yang masuk ke sana. Ini tentu tidak ideal,” jelasnya.
Jika tidak ada perubahan signifikan dalam pengelolaan sampah, ia memperingatkan bahwa daya tampung TPA Bontang tidak akan bertahan lama.
“Usia TPA kita diperkirakan tinggal sekitar tiga tahun jika pola pengelolaan sampah tidak berubah,” katanya.
Sebagai solusi, Pemkot Bontang mendorong optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan pendekatan 3R, yakni Reduce, Reuse, dan Recycle. Melalui sistem ini, sampah akan dipilah sehingga hanya residu yang dibuang ke TPA.
Di sisi lain, Neni juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar, termasuk menjaga taman dan ruang terbuka publik agar tetap rapi dan nyaman.
“Kalau ada rumput yang sudah tinggi atau lingkungan yang terlihat tidak rapi, segera dibersihkan. Jangan menunggu ditegur atau dilaporkan dulu,” katanya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, petugas kebersihan, dan masyarakat dapat terus diperkuat demi menjaga kebersihan Kota Bontang.
“Dedikasi para petugas kebersihan luar biasa, tetapi menjaga kota ini bukan hanya tanggung jawab mereka. Ini tanggung jawab kita semua,” tutupnya. (Adv)

Tinggalkan Balasan