TEKAPE KALTIM

Jendela Informasi Kita

Pemkot Bontang Soroti Lonjakan Kemunculan Buaya, Senapan Bius Jadi Opsi Penanganan

Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya kemunculan buaya di wilayah pesisir yang berdekatan dengan permukiman warga. (dok:tekape)

Bontang – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya kemunculan buaya di wilayah pesisir yang berdekatan dengan permukiman warga.

Sepanjang 2025, tercatat 25 laporan kemunculan satwa predator tersebut di berbagai titik.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyebut tingginya angka tersebut menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret dalam penanganan.

“Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Beberapa waktu lalu kami sudah rapat dengan dinas terkait untuk penanganannya. Buaya sudah ada di mana-mana, baik di darat maupun di laut. Sebisa mungkin kita harus selesaikan,” ujarnya, Sabtu, 28 Maret 2026.

Kekhawatiran masyarakat semakin meningkat setelah insiden penyerangan terhadap seorang anak berusia 12 tahun di kawasan rawa Kelurahan Loktuan. Peristiwa tersebut menjadi salah satu pemicu perhatian serius pemerintah terhadap konflik antara manusia dan satwa liar ini.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemkot Bontang menggelar rapat koordinasi lintas perangkat daerah guna merumuskan langkah penanganan, terutama di wilayah rawan seperti Loktuan dan Guntung.

Dalam rapat tersebut, muncul usulan pengadaan senapan bius sebagai alat bantu evakuasi buaya. Selama ini, proses penangkapan dinilai masih menghadapi banyak kendala, terutama saat buaya berada di perairan terbuka.

“Selama ini penangkapan biasanya dilakukan saat air surut atau ketika buaya berada di lokasi sempit. Kalau di air tentu sangat berisiko untuk didekati,” katanya.

Ia mengungkapkan, meski beberapa upaya evakuasi melibatkan pawang, hasilnya belum maksimal karena banyak buaya yang berhasil melarikan diri ke air sebelum diamankan.

“Sebagian memang berhasil ditangkap, tetapi banyak juga yang lolos karena langsung masuk ke air,” ujarnya.

Data pemerintah mencatat, dari 25 kasus kemunculan sepanjang 2025, sebanyak 10 buaya berhasil dievakuasi, sementara sisanya kembali ke habitatnya. Beberapa lokasi yang kerap dilaporkan menjadi titik kemunculan antara lain Loktuan, Selambai, dan Tanjung Limau.

Selain itu, Neni juga menyoroti potensi peningkatan populasi buaya di wilayah pesisir yang dipicu kemampuan reproduksi tinggi.

“Kalau orang bilang di Loktuan ada 50 ekor, menurut saya itu masih kecil. Karena satu induk buaya saja bisa bertelur sekitar 30 butir,” jelasnya.

Faktor lain yang diduga memicu kemunculan buaya di sekitar permukiman adalah keberadaan sumber makanan, seperti limbah ikan yang dibuang ke laut.

“Buaya memiliki penciuman yang sangat kuat. Kalau ada limbah ikan yang dibuang ke laut, tentu mereka akan datang,” katanya.

Pemkot Bontang memastikan akan terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak guna mencari solusi terbaik dalam menangani persoalan ini, dengan tetap mengutamakan keselamatan warga.

“Kita tidak bisa membiarkan kondisi ini terus terjadi. Yang terpenting adalah keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas,” pungkasnya.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini