Tertekan Defisit Rp150 Miliar, Sejumlah Proyek Prioritas Bontang Ditunda
Bontang – Kondisi keuangan daerah yang mengalami defisit sekitar Rp150 miliar pada 2026 membuat Pemerintah Kota Bontang harus menunda sejumlah proyek strategis.
Beberapa rencana pembangunan yang sebelumnya telah disiapkan kini terpaksa dievaluasi ulang, bahkan dihentikan sementara.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengakui bahwa keterbatasan fiskal saat ini tidak memungkinkan seluruh program tetap dijalankan sesuai rencana.
“Situasinya berat. Anggaran tidak cukup, dan kita tidak bisa memaksakan proyek berjalan. Risiko menunggak pembayaran kepada kontraktor terlalu besar,” ujarnya saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027, Rabu, 8 April 2026.
Salah satu proyek besar yang terdampak adalah pembangunan Waduk Kanaan dengan skema multiyears contract (MYC) senilai Rp267,6 miliar.
Program tersebut sebelumnya disiapkan sebagai solusi pengendalian banjir sekaligus pengembangan kawasan, namun kini harus ditunda.
Selain itu, rencana pembelian mess pemerintah daerah di Jakarta dengan anggaran sekitar Rp8 miliar juga batal direalisasikan.
Penundaan juga menyasar renovasi Kantor Wali Kota Bontang menggunakan Aluminium Composite Panel (ACP) dengan nilai sekitar Rp5 miliar yang belum bisa dilanjutkan dalam waktu dekat.
Tak hanya itu, pembangunan sarana olahraga berupa mini soccer di kawasan Berbas Pantai dengan nilai proyek kurang lebih Rp18 miliar turut masuk dalam daftar penundaan sambil menunggu kepastian anggaran.
Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, menjelaskan bahwa defisit terjadi akibat melesetnya proyeksi Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (SilPA) serta belum pastinya dana transfer dari pemerintah pusat pada triwulan kedua.
“Kondisi ini membuat pemerintah dan DPRD harus mengevaluasi ulang seluruh belanja daerah. Uang terbatas, jadi efisiensi menjadi keharusan,” jelasnya.
Ia menilai, langkah menunda sejumlah proyek merupakan keputusan realistis demi menjaga kesehatan keuangan daerah, meski berdampak pada tertundanya pembangunan.
“Konstruksi proyek yang tertunda memang mengecewakan, tapi yang paling penting, pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan,” tegasnya.
Pemkot Bontang memastikan penyesuaian anggaran akan difokuskan pada program-program prioritas yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, sambil menunggu kondisi fiskal kembali membaik agar proyek-proyek yang tertunda dapat dilanjutkan.(Adv)

Tinggalkan Balasan