TEKAPE KALTIM

Jendela Informasi Kita

Wali Kota Bontang Minta Warga Hindari Aktivitas Berenang di Laut akibat Ancaman Buaya

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (dok: tekape)

Bontang – Meningkatnya kemunculan buaya di kawasan pesisir membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar lebih waspada, terutama saat beraktivitas di perairan.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, meminta warga untuk sementara waktu tidak berenang di laut maupun area perairan lain yang berpotensi menjadi habitat buaya.

“Karena itu masyarakat harus lebih berhati-hati. Sebaiknya tidak berenang di laut demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya saat ditemui di pendopo rumah jabatan wali kota, Minggu, 29 Maret 2026.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya laporan kemunculan buaya di sejumlah titik. Sepanjang 2025, tercatat sekitar 25 kejadian kemunculan buaya di wilayah yang berdekatan dengan permukiman warga.

Menurut Neni, keberadaan buaya di Bontang kini tidak hanya terbatas di sungai atau rawa, tetapi juga mulai terlihat di wilayah laut. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko bagi masyarakat pesisir yang kerap beraktivitas di perairan.

Kekhawatiran warga juga diperkuat oleh insiden serangan terhadap seorang anak berusia 12 tahun di kawasan rawa Kelurahan Loktuan beberapa waktu lalu. Peristiwa tersebut menjadi pengingat akan potensi bahaya satwa liar di sekitar lingkungan permukiman.

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang memicu kemunculan buaya di sekitar permukiman adalah ketersediaan makanan, seperti limbah ikan yang dibuang ke laut.

“Buaya memiliki penciuman yang sangat kuat. Kalau ada limbah ikan yang dibuang ke laut, tentu mereka akan datang,” jelasnya.

Selain itu, kemampuan reproduksi buaya yang tinggi juga menjadi penyebab meningkatnya populasi. Dalam satu kali berkembang biak, seekor induk dapat menghasilkan puluhan telur.

“Kalau kita lihat dari kemampuan berkembang biaknya, populasi buaya ini bisa bertambah cukup cepat,” katanya.

Sebagai langkah penanganan, Pemkot Bontang telah melakukan koordinasi dengan dinas terkait serta lembaga konservasi untuk mencari solusi terbaik. Salah satu opsi yang dibahas adalah penggunaan senapan bius guna mempermudah proses evakuasi.

“Kalau buaya berada di air tentu sulit untuk ditangkap. Karena itu ada usulan penggunaan senapan bius agar bisa ditangani dari jarak aman,” ujarnya.

Neni menegaskan, upaya utama saat ini adalah meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat, khususnya di wilayah pesisir.

“Kita semua harus saling mengingatkan dan menjaga lingkungan agar tetap aman bagi masyarakat,” pungkasnya.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini