TEKAPE KALTIM

Jendela Informasi Kita

Dinkes Bontang Perkuat Strategi Komunikasi Hadapi Tantangan Keberagaman dalam Penanganan Stunting

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati. (dok: tekape)

Bontang – Keanekaragaman budaya dan kebiasaan masyarakat di Kota Bontang menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan program percepatan penurunan stunting.

Perbedaan karakter di setiap kelompok masyarakat membuat penyampaian pesan kesehatan memerlukan pendekatan yang lebih spesifik dan adaptif.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, menilai keberhasilan program penanganan stunting tidak hanya ditentukan oleh intervensi kesehatan maupun pemenuhan kebutuhan gizi anak.

Perubahan perilaku masyarakat juga menjadi aspek penting yang harus terus didorong melalui komunikasi yang efektif.

“Adanya keberagaman budaya dan kebiasaan, metode-metode intervensi perubahan perilaku harus dikuatkan,” ujarnya, Rabu, (3/6/2026).

Menurut Toetoek, tenaga kesehatan yang bertugas di lapangan sering berhadapan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang sosial, budaya, serta pola hidup yang berbeda-beda.

Kondisi tersebut menuntut kemampuan komunikasi yang baik agar edukasi kesehatan dapat diterima dan dipahami sesuai dengan karakter masing-masing kelompok.

Ia menjelaskan bahwa berbagai program edukasi telah dilakukan pemerintah, termasuk kampanye untuk menghentikan praktik buang air besar sembarangan (BABS) yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan lingkungan dan meningkatkan risiko penyakit infeksi pada anak.

Selain itu, masyarakat juga terus diajak untuk lebih aktif memantau pertumbuhan dan perkembangan anak sejak usia dini. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan stunting agar masalah gizi dapat terdeteksi dan ditangani lebih cepat.

Meski demikian, Toetoek mengakui bahwa mengubah kebiasaan yang telah berlangsung lama bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu, strategi komunikasi menjadi faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan setiap program kesehatan.

“Persoalannya bukan hanya soal informasi sudah disampaikan atau belum, tetapi bagaimana masyarakat mau menerima dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu pendekatan komunikasinya juga harus tepat,” katanya.

Sebagai upaya memperkuat kapasitas petugas kesehatan, Dinkes Bontang menggelar pelatihan Komunikasi Antar Pribadi (KAP) yang melibatkan tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Bontang.

Pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam membangun komunikasi dua arah yang lebih efektif dengan masyarakat.

Toetoek menambahkan bahwa pendekatan yang bersifat menggurui sering kali kurang efektif dalam mendorong perubahan perilaku. Sebaliknya, komunikasi yang dilakukan secara humanis, persuasif, dan kekeluargaan dinilai lebih mampu membangun kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat.

“Harapannya petugas kesehatan mampu membangun komunikasi yang lebih dekat, lebih humanis, dan lebih mudah diterima masyarakat sehingga pesan-pesan kesehatan bisa tersampaikan dengan baik,” pungkasnya.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini