Sanitasi Jadi Sorotan, Dinkes Bontang Dorong Penghapusan Praktik BABS untuk Cegah Stunting
Bontang – Pemerintah Kota Bontang terus memperluas fokus penanganan stunting dengan tidak hanya menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan gizi anak, tetapi juga memperhatikan kondisi sanitasi lingkungan yang dinilai berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat.
Salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian adalah praktik buang air besar sembarangan (BABS) yang hingga kini masih ditemukan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut dianggap dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit infeksi yang berpotensi menghambat pertumbuhan anak.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, menegaskan bahwa upaya menurunkan angka stunting membutuhkan keterlibatan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) karena akar permasalahannya cukup kompleks.
“Kalau berbicara stunting, pengentasannya lintas OPD. Tidak hanya Dinas Kesehatan, karena tidak hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga pencegahan penyakit-penyakit infeksi. Salah satu penyebabnya adalah kesehatan lingkungan,” ujarnya, Rabu, (3/6/3026).
Ia menjelaskan bahwa lingkungan yang tidak sehat dapat menjadi pemicu penyebaran penyakit infeksi. Karena itu, perbaikan sanitasi menjadi bagian penting dalam strategi percepatan penurunan stunting yang saat ini dijalankan pemerintah daerah.
Menurut Toetoek, persoalan BABS juga mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. Pemerintah berharap angka praktik tersebut dapat terus ditekan hingga tidak lagi ditemukan di masyarakat.
Salah satu kawasan yang masih menjadi fokus perhatian adalah Kelurahan Loktuan. Padahal wilayah tersebut berada di kawasan yang dikelilingi sejumlah perusahaan yang memiliki potensi untuk berkolaborasi dalam mendukung program kesehatan lingkungan dan sanitasi.
“Harapannya seperti yang disampaikan Ibu Wali Kota, angka BABS ini bisa terus ditekan. Pemerintah sudah memberikan dukungan, perusahaan-perusahaan juga bisa diajak berkolaborasi. Tinggal bagaimana membangun kesadaran masyarakat untuk mengubah perilaku tersebut,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya perubahan perilaku masyarakat, Dinkes Bontang juga menyelenggarakan pelatihan Komunikasi Antar Pribadi (KAP) bagi tenaga kesehatan. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan petugas dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan secara lebih efektif kepada masyarakat.
Toetoek menilai pendekatan persuasif menjadi kunci dalam mendorong perubahan perilaku. Oleh sebab itu, tenaga kesehatan didorong untuk membangun komunikasi yang lebih dekat dan tidak menghakimi agar masyarakat lebih terbuka menerima edukasi yang diberikan.
“Komunikasi antarpribadi ini mengajarkan bagaimana menyampaikan pesan kesehatan dengan cara yang lebih dekat, humanis, dan tidak menghakimi. Harapannya masyarakat lebih mudah menerima dan menerapkan perilaku hidup sehat,” tutupnya.(Adv)

Tinggalkan Balasan