TEKAPE KALTIM

Jendela Informasi Kita

Stunting Tak Hanya Soal Gizi, Sanitasi dan Perubahan Perilaku Jadi Kunci Penanganan di Bontang

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati. (dok: tekape)

Bontang – Persoalan stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan masyarakat, termasuk di Kota Bontang.

Kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis ini tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan kognitif, kemampuan belajar, hingga produktivitas seseorang ketika memasuki usia dewasa.

Berdasarkan data Pemerintah Kota Bontang, saat ini terdapat 1.489 balita stunting yang tersebar di berbagai wilayah. Kelurahan Loktuan tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 190 balita, disusul Kelurahan Tanjung Laut sebanyak 147 balita dan Tanjung Laut Indah sebanyak 146 balita.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak karena penyebabnya tidak hanya berkaitan dengan masalah gizi.

“Kalau berbicara stunting, pengentasannya lintas dinas. Tidak hanya Dinas Kesehatan, karena tidak hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga pencegahan penyakit-penyakit infeksi. Salah satu penyebabnya adalah kesehatan lingkungan,” ujarnya Kamis (4/6/2026).

Menurut Toetoek, salah satu persoalan yang masih memerlukan perhatian serius adalah praktik BABS yang masih ditemukan di sejumlah wilayah. Kebiasaan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit infeksi yang berdampak langsung terhadap kondisi kesehatan anak.

“Jadi BABS ini bisa terus ditekan. Pemerintah sudah memberikan dukungan, perusahaan-perusahaan juga bisa diajak berkolaborasi. Tinggal bagaimana membangun kesadaran masyarakat untuk mengubah perilaku tersebut,” katanya.

Ia juga menilai keberagaman budaya dan kebiasaan masyarakat menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan program percepatan penurunan stunting. Oleh sebab itu, pendekatan perubahan perilaku dinilai perlu diperkuat agar pesan kesehatan dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Adanya keberagaman budaya dan kebiasaan, metode-metode intervensi perubahan perilaku harus dikuatkan,” ujar Toetoek.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Dinas Kesehatan Bontang terus memperkuat kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan Komunikasi Antar Pribadi (KAP). Program ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan petugas dalam menyampaikan edukasi kesehatan secara lebih efektif, humanis, dan sesuai dengan karakteristik masyarakat.

Meski masih menghadapi berbagai tantangan, capaian penurunan stunting di Kota Bontang menunjukkan perkembangan positif. Angka prevalensi stunting yang pada 2025 berada di level 25 persen berhasil turun menjadi 17 persen pada 2026.

Pemerintah daerah kini menargetkan prevalensi stunting dapat ditekan hingga berada di bawah 10 persen melalui kolaborasi lintas sektor, peningkatan kualitas sanitasi, perbaikan gizi keluarga, serta penguatan perubahan perilaku masyarakat.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini