Winardi Nilai Karya Film Anak Bontang Sangat Mumpuni, Lemah di Pemasaran
BONTANG – Wakil Ketua Komisi B DPRD Bontang menyebut kualitas produksi film anak muda Bontang sangat mampu bersaing di tingkat nasional.
Sayangnya, karya-karya itu masih menghadapi tantangan dalam hal pemasaran agar bisa menembus industri kreatif dan menghasilkan nilai ekonomi bagi para pembuatnya.
Hal itu disampaikan Winardi saat menghadiri kegiatan nonton bareng dan diskusi (Nobardis) film karya anak Bontang, yang diselenggarakan Sineas Bessai Berinta, Jumat 16 Oktober 2026 malam.
Dalam kegiatan itu, memutar dua film, yakni Telusuri Diri dalam Tradisi karya Rizky Ichramsyah dan Sang Perintis karya Fadhil KJ Borneo.
Keduanya mengangkat kisah sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat di Kota Bontang.
Dalam sambutannya, Winardi, turut mengapresiasi semangat masyarakat, khususnya kalangan pemuda, dalam menghidupkan industri perfilman lokal.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang mendukung film lokal, yang mendukung karya lokal,” ujarnya.
Winardi menilai kemampuan sineas Bontang dalam memproduksi film sudah semakin matang. Bahkan, pelajar SMK Negeri 2 Bontang telah mampu menembus tingkat nasional melalui karya film mereka.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi sekadar menghasilkan karya berkualitas, melainkan bagaimana karya tersebut bisa dipasarkan dan memberikan penghasilan bagi kreatornya.
“Kalau produksi seni, saya anggap teman-teman Bontang sudah paripurna, sudah lulus. Bahkan SMK 2 sudah bisa menembus nasional dalam produksi film,” kata Awin, sapaan akrabnya.
Ia menilai, dukungan terhadap perfilman lokal selama ini masih cenderung berfokus pada pembiayaan produksi.
Padahal, strategi pemasaran semestinya disiapkan sejak sebelum film dibuat hingga setelah karya selesai diproduksi.
Awin mencontohkan pola promosi yang dilakukan pelaku industri film di Jakarta. Sebelum produksi dimulai, mereka sudah membangun perhatian publik melalui konten-konten promosi. Strategi kemudian dilanjutkan selama proses produksi hingga film siap ditayangkan.
Menurut Awin, pola semacam itu perlu menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan industri kreatif di Bontang.
Dukungan pemerintah tidak cukup hanya sebatas pendanaan produksi, tetapi juga perlu mencakup promosi, distribusi, dan pemasaran.
Ia mengaku telah beberapa kali menyampaikan persoalan tersebut dalam rapat bersama Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar).
“Kalau karya hanya sekadar karya, berarti kita cukup sampai di situ sebagai seniman. Tapi bagaimana karya ini bisa menghasilkan uang? Itu sebenarnya tantangan kita di Kota Bontang,” tegasnya.
Awin berharap, pengembangan industri kreatif di Bontang tidak hanya melahirkan karya berkualitas, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para kreator lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. (Adv)

Tinggalkan Balasan