TEKAPE KALTIM

Jendela Informasi Kita

Pemkot Bontang Siapkan Bonus Rp500 Juta untuk Wilayah Berprestasi Tekan Stunting dan Kelola Sampah

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (dok: tekape)

Bontang – Pemerintah Kota Bontang menyiapkan skema penghargaan berupa insentif senilai Rp500 juta bagi kecamatan maupun kelurahan yang berhasil menunjukkan kinerja terbaik dalam menurunkan angka stunting serta meningkatkan pengelolaan kebersihan lingkungan.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk mendorong keterlibatan aktif seluruh elemen wilayah dalam menyelesaikan dua persoalan yang saat ini menjadi prioritas pembangunan daerah, yakni stunting dan sampah.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan keberhasilan mewujudkan kota yang bebas stunting dan bebas sampah harus dimulai dari lingkungan terkecil. Karena itu, peran kecamatan, kelurahan, hingga ketua RT dinilai sangat menentukan keberhasilan program tersebut.

“Kalau kita bicara kota bebas stunting dan bebas sampah, itu dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu RT,” ujarnya usai penandatanganan perjanjian kinerja bersama camat, lurah, dan kepala puskesmas di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota, Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, tanggung jawab penanganan stunting dan kebersihan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada organisasi perangkat daerah (OPD).

Pemerintah menginginkan pengawasan dan aksi nyata dilakukan hingga ke tingkat masyarakat agar persoalan yang muncul dapat segera ditangani.

Untuk mendukung target tersebut, Neni meminta camat, lurah, dan kepala puskesmas secara berkala turun langsung ke lapangan guna memantau kondisi masyarakat. Langkah itu dilakukan agar kasus stunting baru dapat dideteksi lebih awal dan mendapatkan penanganan yang cepat.

Pemerintah daerah juga menaruh perhatian pada pelaksanaan kegiatan timbang serentak balita yang akan digelar pada Juni 2026. Program tersebut dinilai penting untuk memperoleh data yang lebih akurat mengenai kondisi tumbuh kembang anak di seluruh wilayah Bontang.

“Kadang satu RT hanya ada beberapa kasus. Kalau dipantau rutin, penanganannya akan lebih cepat,” katanya.

Berdasarkan data Pemkot Bontang, saat ini terdapat 1.489 anak stunting yang tersebar di 15 kelurahan. Meski demikian, angka prevalensi stunting menunjukkan tren positif dengan penurunan dari sekitar 25 persen pada 2024 menjadi 17 persen pada 2025.

Sebagai upaya percepatan penanganan, pemerintah terus menjalankan berbagai program intervensi, termasuk pemberian makanan tambahan dan distribusi telur kepada anak-anak stunting selama 53 hari berturut-turut.

Selain itu, kepala puskesmas juga didorong menjalin kemitraan dengan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial guna memperkuat dukungan terhadap penanganan stunting.

Di sektor kebersihan lingkungan, Pemkot Bontang mendorong pembentukan Satgas Gerakan Sampahku Tanggung itu Jawabku (GESIT) di setiap kelurahan.

Keberadaan satgas tersebut diharapkan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dan menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.

Neni berharap pemberian insentif fiskal dapat menjadi motivasi bagi setiap wilayah untuk berkompetisi secara sehat dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan menurunkan angka stunting secara signifikan.

“Nanti akan ada penilaian. Wilayah yang progresnya baik tentu akan kita berikan penghargaan dan dukungan anggaran,” pungkasnya.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini