TEKAPE KALTIM

Jendela Informasi Kita

Cari Solusi Penjemputan Karyawan, DPRD Usulkan Halte di Kawasan RTH

Rapat lanjutan pembahasan draf Raperda RTRW di Ruang Sekretariat DPRD Bontang.(dok: tekape)

BONTANG – Usulan menjadikan ruang terbuka hijau (RTH) sebagai titik penjemputan karyawan perusahaan mencuat dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bontang.

Gagasan itu disampaikan anggota Pansus Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) RTRW, Heri Keswanto, sebagai solusi mengurangi antrean pekerja yang selama ini menunggu bus perusahaan di bahu jalan.

Dalam rapat pembahasan, ia menanyakan kemungkinan pembangunan halte di dalam kawasan RTH, khususnya di kawasan Taman Tanjung Laut. Menurutnya, jika tersedia halte di area tersebut, para pekerja dapat berkumpul di dalam kawasan taman sehingga tidak lagi berdiri di tepi jalan yang berpotensi mengganggu arus lalu lintas.

“RTH itu tidak bisa dibuatkan halte di dalamnya. Terkait masalah penjemputan (red) karyawannya supaya tidak berada di pinggir jalan mungkin bisa masuk di wilayah RTH,” kata Heri Keswanto.

Heri menilai, konsep tersebut dapat menjadi alternatif penataan titik penjemputan karyawan perusahaan. Selain membuat proses naik turun penumpang lebih tertib, keberadaan halte di area yang memadai dinilai dapat mengurangi aktivitas menunggu bus di badan jalan.

“Siapa tahu bisa dibuatkan halte, sehingga memungkinkan karyawan-karyawan itu berdiri atau berjejer di dalam, tidak berdiri di pinggir jalan tapi titik kumpulnya di dalam kawasan RTH,” imbuhnya.

Merespon hal itu, Kepala Bidang Perencanaan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Andi Hasanuddin menjelaskan bahwa kondisi fisik RTH, khususnya di Taman Tanjung Laut, tidak memungkinkan dijadikan lokasi halte maupun area manuver kendaraan berukuran besar.

Ia menyebut, lahan di kawasan tersebut relatif sempit. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu area sekitar taman sudah dipadati aktivitas masyarakat dan kendaraan yang mengantre bahan bakar minyak (BBM) di sekitar lokasi.

“Pagi siang sampai sore itu tidak bisa sudah kami larang, masyarakat mungkin bisa ribut karena jadi parkir juga untuk antri. Mobil mundur ke belakang antri BBM. Sementara lokasi di dalam agak sempit juga memang,” katanya merespon.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini