TEKAPE KALTIM

Jendela Informasi Kita

460 Kasus TBC dan 260 HIV Masih Aktif di Bontang, Edukasi Kini Libatkan Kelompok Perempuan

Bontang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang memperkuat upaya pencegahan penyebaran tuberkulosis (TBC) dan HIV dengan menggandeng kelompok perempuan sebagai mitra edukasi di lingkungan masyarakat. Langkah ini dilakukan menyusul masih ditemukannya ratusan kasus kedua penyakit menular tersebut hingga pertengahan 2026.

Berdasarkan data Dinkes Bontang, hingga Juli 2026 tercatat sekitar 460 kasus TBC aktif dan 260 kasus HIV. Kondisi itu mendorong pemerintah untuk terus memperluas sosialisasi mengenai pentingnya pencegahan, deteksi dini, hingga kepatuhan menjalani pengobatan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bontang, Sudirman, menilai perempuan memiliki peran besar dalam membangun budaya hidup sehat di lingkungan keluarga sehingga diharapkan mampu menjadi penyambung informasi kepada masyarakat.

“Hingga Juli 2026 kami mencatat sekitar 460 kasus TBC aktif dan sekitar 260 kasus HIV di Kota Bontang. Karena itu, edukasi harus terus diperluas agar masyarakat semakin memahami pentingnya pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan penyakit menular,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).

Program edukasi tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi antara Dinkes Bontang dan PT Kaltim Parna Industri (KPI). Peserta yang dilibatkan berasal dari kader PKK, Gabungan Organisasi Wanita (GOW), serta Gabungan Istri Karyawan (GISKA) PT KPI.

Berbeda dengan kegiatan pada tahun-tahun sebelumnya yang menyasar pelajar maupun masyarakat umum, kali ini penyuluhan difokuskan kepada kelompok perempuan. Mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menerapkan pola hidup sehat sekaligus menyebarkan informasi mengenai bahaya HIV dan TBC kepada keluarga maupun lingkungan sekitar.

Direktur Teknik dan Produksi PT KPI, Pradhika Rama Ulianto, mengatakan edukasi kesehatan menjadi bagian penting dalam langkah pencegahan agar masyarakat memahami risiko penularan penyakit sejak dini.

“Harapannya peserta yang hadir tidak hanya memahami materi yang disampaikan, tetapi juga menjadi corong informasi bagi keluarga dan lingkungan masing-masing. Dengan begitu, pengetahuan tentang pencegahan HIV dan TBC bisa semakin luas di masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan, kegiatan edukasi kesehatan telah menjadi program rutin perusahaan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Setiap tahun sasaran peserta berganti agar manfaat penyuluhan dapat dirasakan oleh lebih banyak kalangan. Tahun sebelumnya kegiatan diberikan kepada pelajar SMA, sedangkan sebelumnya lagi menyasar masyarakat di kawasan pasar.

Tidak hanya membahas HIV dan TBC, peserta juga memperoleh pelatihan mengenai bantuan hidup dasar (BHD), penanganan kondisi darurat, hingga praktik pemadaman kebakaran awal bersama Dinas Pemadam Kebakaran. Materi tersebut dinilai penting mengingat Kota Bontang merupakan kawasan industri dengan potensi risiko keadaan darurat yang cukup tinggi.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya memahami isu kesehatan, tetapi juga memiliki bekal menghadapi situasi darurat. Pengetahuan ini penting karena kita hidup di kawasan industri yang memiliki berbagai potensi risiko,” tutup Pradhika.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini